Revolusi Tai Kucing

Mencari Kemungkinan, Dalam Ruang Ketidakmungkinan
Ritme Dialektika Sebuah Kenihilan..
Selamat Tinggal Pengatas namaan Segala Bentuk Pelabelan....
Selamat Datang Absurditas, Dan Lahir Menjadi Realitas..

Saturday, August 04, 2007

Hak Asasi Binatang 1


Hak Asasi Binatang 1

Seno Gumira Ajidarma

Dalam film Apocalypto yang disutradarai Mel Gibson, kita akan melihat manusia mengorbankan manusia lain demi penyembahan Dewa Matahari. Bila keyakinan lain yang mana pun merasa telah berbuat lebih manusiawi dengan tidak mengorbankan manusia, melainkan binatang, apakah pendapat binatang itu sendiri?

Kata Bapak Guru, binatang tidak berakal. Itulah sebabnya manusia yang berakal budi perlu mengembangkan akal budinya untuk menempatkan diri dalam sudut pandang binatang. Bagaimana kalau Anda baru enak-enak mencari makan ditangkap manusia dan disembelih atas nama peradaban mulia yang disebut beragama? Dalam konferensi burung-burung, seekor cucakrawa berkata, "Aneh betul perilaku manusia. Untuk upacara keagamaannya ia menyembelih makhluk lain. Kenapa ia tidak mengorbankan spesiesnya sendiri? Enak bener! Bilang makhluk lain lebih rendah derajatnya, lantas merasa berhak membuatnya jadi korban!"

Memang itulah pertanyaannya. Benarkah salah satu hak asasi manusia adalah membunuh makhluk lain, demi kelanjutan hidupnya sendiri secara spiritual dalam upacara agama, maupun secara jasmaniah dalam kehidupannya sehari-hari? Seorang anak kecil memegang kepala ayam goreng pada lehernya dan memainkannya seperti dalang. "Aku mungkin hidup lebih bahagia kalau kamu tidak sedang memakanku," katanya. Ada cerita tentang surga bagi binatang dan tentu saja teori bahwa makhluk yang berperilaku baik akan lahir kembali dalam derajat lebih tinggi.

Tentu ini memang hanya teori, yang juga akan terpertanyakan secara teoretik: "Apakah setelah menjadi makhluk tertinggi dan termulia lantas mempunyai hak berperilaku buruk, sehingga lahir kembali sebagai kuda, demi terpenuhinya suatu lingkaran sempurna?" Hmm. Cakra Manggilingan?

Pertanyaan semacam itu tidak bisa dan mungkin tidak perlu dijawab. Namun pertanyaan-pertanyaan tak berjawab mempunyai hak asasi untuk tetap disuarakan, demi terdengarnya pertanyaan itu sendiri.

***

Pagi yang indah diwarnai suara burung berkicau. Bukankah luar biasa makhluk yang bernama manusia ini, ketika dalam ketenangan dunia menikmati kemerduan suara burung, pada dasarnya ia merenggut kebebasan burung itu sendiri? Barangkali ia membeli burung itu di pasar burung. Ini berarti terdapat dua kemungkinan: apakah burung itu telah dijerat, ataukah burung itu telah dipelihara sejak menetas dari telur-yang jelas kemungkinan mana pun berakhir dalam sangkar.

Maka, benarkah suara kicau burung itu mewakili sambutannya kepada pagi yang cerah? Seperti makna yang dibebankan dalam lagu-lagu untuk anak kecil? Siapa yang bisa menjamin bahwa suara burung itu tidak mewakili derita seekor burung yang dengan sayapnya bisa terbang bebas di angkasa raya? Benarkah tidak mungkin, bahwa kicau burung yang menurut manusia begitu indahnya, ternyata mewakili kerinduan makhluk yang sebatang kara terpisah dari induk dan saudara-saudara seeramannya? Tak kurang-kurangnya manusia mengibaratkan nasib malang bagaikan burung dalam sangkar -mungkinkah itu hanya keindahan bahasa pada lidah tak bertulang?

Bahwa kemudian terdapat rekaman suara kicau berbagai burung, yang sebagai kualitas bunyi musikalitasnya memang luar biasa, belumlah tentu bisa dianggap mengurangi dosa, mentang-mentang tidak berasal dari burung dalam sangkar -karena ini juga bisa dimaknai sebagai eksploitasi dalam ketidakbebasan makhluk lain yang cukup kurang ajar. Penjual dan pembeli menanggung dosa peradaban yang sama.

***

Melarang orang memakan pecel lele akan disebut melanggar hak asasi manusia, bukan? Begitu juga melarang, apalagi menghukum,jual beli perkutut, poksay, jalak, podang, murai, dan lain sebagainya di pasar burung, justru akan dianggap kurang beres pikiran. Benarkah berbahagia di atas penderitaan makhluk lain merupakan hak asasi manusia?

Mari kita berpikir.

Labels:

Hak Asasi Binatang 2


Hak Asasi Binatang 2

Seno Gumira Ajidarma

Sebetulnya saya tidak tahu banyak tentang binatang dan tampaknya juga tidak tahu terlalu banyak tentang manusia. Namun, saya mempunyai gagasan bahwa sikap kita terhadap binatang mencerminkan diri kita sebagai manusia. Bisakah diterima, misalnya, seseorang yang kita kenal sebagai pembela hak asasi manusia, kemudian kita lihat menendangi seekor anjing, melulu karena dalam anggapannya (tanpa memeriksa dan merenungkan secara cerdas sumber apa pun) bahwa anjing itu binatang yang najis?

Katanya manusia itu makhluk yang mulia. Lebih mulia dari binatang, bukan sekadar karena berotak lebih baik, melainkan karena otak tersebut dipersembahkan kepada kemuliaan perilaku dan budi pekerti di dalam dunia -termasuk tentunya dalam sikap terhadap binatang.

Namun, itulah masalahnya. Apakah yang telah terjadi dengan flora dan fauna di bumi semenjak manusia sadar atas keberadaan otaknya untuk menggali segala kemungkinan di dunia dalam hidupnya? Itu bisa disebut Pencerahan, itu bisa disebut Modernisasi, tetapi saksikanlah akibatnya.

Dengan segala kelebihannya, manusia ternyata belum lebih baik daripada binatang. Bahkan dengan segala kelebihannya itu, sampai detik ini, manusia masih menghalalkan pembunuhan - yang menjadi lebih parah karena mengatasnamakan segala kebaikan, dalam kesukuan, kebangsaan, bahkan sampai agama. Harapan macam apakah yang masih sahih kita miliki dalam dunia semacam ini? Bagaimana caranya kita menjadi lebih baik dari binatang, yang memang tidak pernah disalahkan jika saling membunuh demi kelanjutan hidup?

Sudah waktunya kita mempelajari hak asasi binatang, karena menurut saya sedikit banyak akan menunjuk dan mempersoalkan hak asasi kita sebagai manusia juga, terutama bagaimana kita telah mempergunakan hak tersebut. Dalam dunia ilmu pengetahuan, misalnya, binatang sering dijadikan eksperimen, mulai dari uji coba obat sampai pesawat luar angkasa. Dalam uji coba itu binatang diandaikan tidak apa-apa kalau sakit, menderita, dan ujung-ujungnya mati. Pada abad XIX di Inggris berlangsung oposisi atas percobaan-percobaan semacam itu, sejauh jika binatang tersebut tidak disuntik antirasa atau anestesi. Sekarang, tanpa maupun dengan anestesi, pemanfaatan binatang untuk uji coba apa pun, ilmiah maupun komersial, ditolak - sampai ada pernyataan dalam salah satu merek botol shampoo, "Tidak Menggunakan Binatang Apa Pun untuk Uji Coba".

Bukan hanya untuk eksperimen, tetapi untuk diternakkan, dipelihara, dan dimasukkan kebun binatang pun, kesahihan manusia melakukannya dipersoalkan - tentu termasuk juga "hak asasi manusia" untuk menelan binatang-binatang itu sebagai makanan huenak tenan dalam peradaban nan canggih. Kita akan melacaknya sekilas pintas satu persatu.

Nah, apa persoalannya dalam memelihara binatang?

Perhatikanlah seekor jaing yang telah dibeli dengan mahal dan juga mendapat makanan jaing impor nan mahal. Makanannya tentu beres dan ia pun sangat disayangi oleh majikannya. Dipeluk, diciumi, dan mungkin saja tidurnya satu ranjang. Namun jaing ini ternyata kesepian. Kenapa? Pertama, karena jaing di negeri miskin seperti Indonesia ada yang memburunya di perkotaan, baik untuk dimakan maupun sekadar dibunuh karena kebodohan-akibatnya ia terkurung dalam rumah; dan hanya menikmati jalan-jalan 15 sampai 30 menit tiap hari, sebelum dan sesudah majikannya pulang dari tempat pekerjaannya. Kedua, karena pemilik jaing mahal tentu juga orang sibuk, sebetulnya kontak antara mereka juga terlalu sedikit.

Jadi, jaing ini secara jasmaniah saja terpelihara, dengan sangat baik malah dibanding manusia-manusia Indonesia yang kismin, tetapi secara rohaniah jelas termiskinkan, karena hidupnya yang terkurung dan "tidak seperti layaknya jaing": Bebas berkeliaran, bebas mencari makanan, dan tentu saja bebas kawin.

Lho, apakah jaing punya rohani? Kita akan perbincangkan ini di kolom berikutnya. Untuk sekarang, cukup kita ketahui, memelihara binatang atau hewan tetap dianggap layak, tetapi jika memenuhi dua syarat: (1) Kebutuhan dasar jasmani dan rohaninya harus dipenuhi; (2) Binatang tersebut harus mendapat kehidupan yang setidaknya sama baik seperti jika beliau hidup secara bebas. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika kita sendiri tidak mendapatkan dua hal tersebut. Jika kita tidak akan melakukannya kepada binatang, mestinya kita percaya diri tidak akan melakukannya kepada manusia lain. Meski, tentu saja ironis, dan ini sering kita saksikan, seseorang yang sangat menyayangi binatang peliharaannya, ternyata tega bersikap kejam dan tidak manusiawi terhadap sesama manusia lawan-lawan politiknya. Teori saya belum-belum sudah gugur: Sikap kita terhadap binatang ternyata bisa tidak mencerminkan sikap kita terhadap manusia.

Labels:

Friday, July 13, 2007

Anarkisme : Paham Yang Tak Pernah Padam


Anarkisme : Paham Yang Tak Pernah Padam

Dari Pustaka Otonomis


Oleh Alm. Mansour Fakih

Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.

Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.

Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.

Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.

Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.

Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.

Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.

Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.

Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.

Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.

Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.

Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semngat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.

Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.

Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme

Biografi

Mansour Faqih, almarhum lulusan Fakultas Filsafat dan Teologi, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hampir selama duapuluh tahun menekuni perannya sebagai fasilitator program pendidikan kerakyatan di berbagai ornop di Indonesia, kecuali masa jeda empat tahun (1988-1992) untuk menyelesaikan program magister dan doktoralnya di Universitas Massachusets, AS, dalam bidang pendidikan dan perubahan sosial, serta empat tahun berikutnya (1992-1996) sebagai Country Representative OXFAM-GB di Indonesia. Juga pernah menjabat sebagai Chairman of Advisory Board Insist, dan aktif sebagai fasilitator pelatihan, pengarah penelitian di ReaD, dewan redaktur jurnal Wacana, menyunting dan menulis beberapa buku terbitan Insist Press, Pustaka Pelajar, dan konsultan senior di Remdec-Jakarta.(biografi singkat ini dikutip dari Kata Zine # 02, Februari-Maret 2007)

Labels:

ABC Dialektika Materialis

Leon Trotsky (1939)


Diterjemahkan dan diedit oleh Anonim (Desember 1998) dari Leon Trotsky, The ABC of Materialist Dialectics diterjemahkan sesuai teks dalam website In Defence of Marxism.


Dialektika bukanlah fiksi dan bukan pula mistisisme, melainkan sebuah pengetahuan mengenai bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi ke dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berusaha mencapai sebuah pengertian yang lebih rumit dan proses-proses yang mendesak untuk diperbincangkan. Logika dialektika dan logika formal memikul sebuah hubungan yang serupa dengan hubungan antara matematika tingkat tinggi dengan matematika yang lebih rendah.

Di sini saya akan mencoba untuk membuat sketsa substansi masalah dalam sebuah format yang sangat ringkas. Silogisme sederhana logika Aristotelian bermula dari preposisi bahwa "A" sama dengan "A". Postulat ini diterima sebagai sebuah aksioma bagi banyak sekali tindakan praktis manusia dan generalisasi-generalisasi elementer.

Tetapi pada kenyataannya "A" tidak sama dengan "A". Hal ini mudah untuk dibuktikan jika kita mengamati dua huruf ini di bawah sebuah lensa --satu sama lain sama sekali berbeda. Namun, orang dapat saja berkeberatan, karena mereka semata simbol bagi kuantitas-kuantitas sederajat, contohnya satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf itu. Keberatan itu tidak penting; pada kenyataannya satu pon gula tidak pernah sama persis dengan satu pon gula --sebuah pengukuran yang lebih teliti selalu menyingkapkan adanya perbedaan. Lagi-lagi orang dapat berkeberatatan, tapi satu pon gula adalah sama dengan dirinya sendiri. Ini juga tidak benar --semua bentukan tanpa bisa diinterupsi berubah dalam ukuran, berat, warna, dan lain sebagainya. Mereka itu tidak pernah sama dengan dirinya sendiri. Seorang sophis akan menanggapi bahwa satu pon gula adalah sama dengan dirinya "pada saat yang tertentu".

Terlepas dari nilai praktis yang sangat ekstrim meragukan dari "aksioma" ini, ia tidak bertahan juga terhadap kritisisme teoritis. Bagaimana kita harusnya benar-benar memahami kata "saat"? Jika ia adalah sebuah interval waktu yang sangat kecil, maka satu pon gula ditundukkan menjadi sasaran selama berlangsungnya "saat" tersebut pada perubahan-perubahan yang tak dapat dielakkan, atau apakah "saat" adalah sebuah abstraksi yang murni matematis, yaitu, sebuah kekosongan dari waktu? Tapi semua hal eksis dalam waktu; dan eksistensi sendiri adalah sebuah proses yang tidak berhenti dari transformasi; waktu secara konsekuen adalah sebuah elemen fundamental bagi eksistensi. Jadi aksioma "A" adalah sama dengan "A" menandakan bahwa suatu hal adalah sama dengan dirinya sendiri jika ia tidak berubah, yaitu jika ia tidak eksis.

Secara sepintas kelihatannya, "kepelikan-kepelikan" ini tiada berguna. Dalam realita, hal-hal itu amat menentukan arti. Di satu sisi aksioma "A" adalah sama dengan "A" muncul sebagai titik keberangkatan bagi semua pengetahuan kita, di sisi lain sebagai titik keberangkatan segala kekeliruan dan kesalahan dalam pengetahuan kita. Untuk membuat penggunaan yang bebas resiko dari aksioma "A" adalah sama dengan "A" adalah hanya mungkin di dalam batasan-batasan pasti. Ketika perubahan-perubahan kuantitatif dalam "A" adalah tidak berarti bagi tugas-tugas yang ada, maka kemudian kita dapat memperkirakan bahwa "A" adalah sama dengan "A". Contohnya ini adalah cara di mana seorang pembeli dan seorang penjual mengingat satu pon gula, demikian pula kita mempertimbangkan suhu matahari. Sampai waktu sekarang ini kita mempertimbangkan kekuatan mata uang dollar dengan cara yang sama. Tetapi perubahan-perubahan kuantitatif, yang melebihi batasan-batasan pasti, terkonversi menjadi kualitatif. Satu pon gula tunduk kepada tindakan air atau bensin, berhenti menjadi satu pon gula. Satu dollar dalam pelukan seorang presiden berhenti sebagai satu dollar. Untuk menentukan titik kritis pada saat yang tepat di mana kuantitas berubah menjadi kualitas adalah satu dari tugas-tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.

Setiap pekerja mengetahui bahwa mustahil membuat dua benda yang sepenuhnya sama. Dalam perluasan bearing-brass menjadi cone bearings diperkenankan adanya sebuah deviasi atas yang disebut terakhir, yang, bagaimanapun, tidak boleh melampaui batasan-batasan pasti (hal ini disebut toleransi). Dengan mengamati norma-norma toleransi, intinya dipertimbangkan menjadi setara. ("A" adalah sama dengan "A"). Saat toleransi menjadi berlebih, kuantitas berlanjut menjadi kualitas; dengan kata lain, cone bearings tadi menjadi inferior atau sepenuhnya tak berharga.

Pemikiran ilmiah kita hanyalah, satu bagian dari keseluruhan tindak praktek kita, termasuk teknik-teknik. Bagi konsep-kopsep, eksistensi "toleransi" juga ada. Toleransi ini ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma "A" adalah sama dengan "A", tetapi dengan logika dialektis yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. "Akal sehat" dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui "toleransi" dialektis.

Pemikiran vulgar beroperasi dengan konsep-konsep macam kapitalisme, moral, kebebasan, negara pekerja, dll. sebagai abstraksi-abstraksi pasti, mengira bahwa kapitalisme adalah sama dengan kapitalisme, moral adalah sama dengan moral, dan seterusnya. Pikiran dialektis menganalisa semua hal dan fenomena dalam perubahannya yang terus berlangsung, sambil menetapkan dalam kondisi-kondisi material dari perubahan-perubahan tersebut yang batas kritis di luar hal yang "A" barhenti menjadi "A", sebuah negara pekerja berhenti menjadi negara pekerja.

Kekurangan fundamental dari pemikiran vulgar terletak dalam kenyataan bahwa ia berharap untuk mengisi dirinya sendiri dengan cetakan ajeg dari sebuah realitas yang mengandung gerakan abadi. Dengan cara memperketat perkiraan-perkiraan, koreksi-koreksi, kongkritisasi; pemikiran dialektis memberikan sebuah kekayaan mengenai isi dan fleksibitas kepada konsep-konsep; bahkan saya katakan bahwa ini adalah sebuah kelembapan yang bagi sebuah bidang tertentu membawanya lebih dekat pada fenomena yang nyata hidup. Bukan kapitalisme secara keseluruhan, melainkan sebuah kapitalisme tertentu pada sebuah tahap perkembangan tertentu. Bukan sebuah negara pekerja secara keseluruhan, tetapi sebuah negara pekerja tertentu dalam sebuah negara terbelakang dalam sebuah pengepungan kaum imperialis, dan lain-lain.

Pemikiran dialektis berhubungan dengan pemikiran vulgar dengan cara yang sama seperti sebuah gambar bergerak (motion picture) berhubungan dengan sebuah foto yang ajeg. Gambar bergerak tidak berada di luar hukum foto ajeg tetapi mengkombinasikan sebuah urutan dari foto-foto tersebut sesuai dengan hukum-hukum gerak. Dialektika tidak mengingkari silogisme, tetapi mengajari kita untuk menggabungkan silogisme dalam cara yang sedemikian rupa untuk membawa pengertian kita menjadi lebih dekat pada realitas yang berubah secara abadi. Dalam bukunya, Logika, Hegel mendirikan satu rangkaian ketentuan-ketentuan: perubahan kuantitas menjadi kualitas, perkembangan melalui kontradiksi, konflik mengenai isi dan bentuk, interupsi dari kontinuitas, perubahan posibilitas menjadi hal yang tak dapat dihindarkan adanya, dll., yang sama pentingnya bagi pemikiran teoritis sepenting dalam silogisme sederhana bagi tugas-tugas yang lebih elementer.

Hegel menulis, sebelum Darwin dan sebelum Marx. Berterima kasih kepada impuls kuat yang diberikan Revolusi Perancis kepada pemikiran, Hegel mengantisipasi gerakan ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Tetapi karena itu semata sebuah antisipasi, meskipun dilakukan oleh seorang jennius, hal itu menerima sebuah karakter idealistik dari Hegel. Hegel mengoperasikan bayangan-bayangan ideologis sebagai realitas terakhir. Marx mendemonstrasikan bahwa gerakan dari bayangan-bayangan idiologis ini tidak merefleksikan apa-apa kecuali gerakan dari tubuh-tubuh materi.

Kita menamakan dialektika kita, materialis, sebab ia tidak berakar baik di surga maupun di kedalaman dari "kehendak bebas" kita, melainkan di dalam realitas objektif, di alam. Kesadaran timbul dari bawah sadar, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari dunia inorganik, galaksi dari nebula. Di atas tiap undakan tangga perkembangan ini, perubahan-perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi kualitatif. Pikiran kita, terrmasuk pikiran dialektis, hanyalah satu dari bentuk-bentuk ekspresi zat yang berubah. Di dalam sistem ini tidak tersedia tempat bagi Tuhan, Syetan, jiwa kekal, tidak juga norma-norma abadi dari hukum dan moral. Dialektika pemikiran, timbul dari dialektika alam, secara konsekuen memiliki sebuah karakter yang seluruhnya materialis. Darwinisme, yang menjelaskan evolusi spesies melalui transformasi kuantitatif berlanjut pada kualitatif, adalah kemenangan tertinggi dari dialektika dalam seluruh lapangan perkara organik. Kemenangan besar besar lainnya adalah penemuan tabel berat atom dari unsur kimia dan transformasi lebih lanjut dari satu elemen menjadi satu elemen lain.

Secara erat, transformasi-transformasi ini (spesies, elemen, dll.) berkaitan dengan masalah klasifikasi, sama pentingnya dalam ilmu alam sebagaimana dalam ilmu sosial. Sistem Linneaus.

(abad ke-18) mempergunakan immutabilitas spesies sebagai titik awalnya, terbatas pada deskripsi dan klasifikasi mengenai pertanian sesuai karakteristik-karakteristik abadinya. Periode infantil dari botani adalah analogis dengan periode infantil logika, karena bentuk-bentuk pikiran kita berkembang seperti semua hal yang hidup. Hanya penyangkalan yang tak dapat disanggah mengenai ide tentang spesies jadi, hanya studi mengenai sejarah evolusi tentang pertanian dan anatominya, menyiapkan basis bagi sebuah klasifikasi yang benar-benar ilmiah.

Marx, yang dalam perbedaan dari Darwin adalah seorang dialektikus yang sadar, menemukan sebuah basis bagi klasifikasi ilmiah mengenai masyarakat-masyarakat manusia dalam perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya dan struktur kepemilikan yang membentuk anatomi masyarakat. Marxisme memberikan substitusi berupa sebuah klasifikasi dialektik materialistis kepada klasifikasi vulgar mengenai masyarakat dan negara, yang bahkan hingga sekarang masih tumbuh dengan subur dalam berbagai universitas. Hanya dengan menggunakan metode Marx dimungkinkan secara benar menentukan baik konsep mengenai sebuah negara pekerja maupun juga momen keruntuhannya.

Kita lihat, semua ini sama sekali tidak mengandung hal "metafisik" atau "scholastis" sebagai ungkapan ketidaktahuan yang congkak. Logika dialektis mengungkapkan hukum gerak dalam pemikiran ilmiah kontemporer perjuangan melawan dialektika materialis sebaliknya mengungkapkan sebuah masa lalu yang berjarak, konservatisme dari borjuasi kecil, keangkuhan diri para pengusung rutinitas universitas, dan ... sekilat harapan bagi sebuah alter-life (kehidupan yang berubah).

15 Desember 1939.

Labels:

Friday, July 06, 2007

Legenda Wongasu


SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.
Berikut inilah legenda tersebut:

“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.

Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.
***
SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”

Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.

“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.

Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.

Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.
***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

* Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002.

* Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.

dimuat di: Kompas, Minggu 3 Maret 2002

(Seno Gumira Ajidarma)

Labels: